CERITA FIKSI

Di Balik Bayang-Bayang


Adit menatap ruangan gelap di depannya, tubuhnya tegak meski ketegangan merayap perlahan. Rumah tua ini tampak seperti hampir dilupakan oleh waktu, dengan dinding yang terkelupas dan lantai kayu yang berderit setiap kali dia melangkah. Mungkin karena itu, banyak orang di desa ini memilih untuk mengabaikan tempat ini. Namun, Adit tidak bisa mengabaikan bau busuk yang terus mengikutinya, bukan dari sampah atau kotoran, tetapi sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang berasal dari dunia lain.


Dia berdiri di tengah ruangan, tangan terkepal di sisi tubuh. Pakaian sederhana, jelek, dan usang menunjukkan kesulitan hidup yang telah lama ia hadapi. Sebagai seorang paranormal, Adit seharusnya bisa hidup lebih baik, mungkin dengan banyak uang dan klien yang mampu membayar mahal jasanya. Namun kenyataannya, kehidupannya jauh dari itu. Ia bukanlah seseorang yang datang dari keluarga kaya atau berpengaruh. Adit hanya memiliki kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan roh, dan itu sudah cukup untuk menghidupi dirinya—meski seringkali dengan bayaran yang sangat minim.


"Apa yang kau inginkan, roh?" bisiknya pelan, berbicara kepada kekosongan di sekitar. Tangannya meraih kantong kecil yang berisi garam, sejenis perlindungan dari entitas gaib yang sering kali datang dengan niat jahat.


Suara deritan pintu membuat Adit terhenti. Dari sudut matanya, dia melihat sosok samar bergerak di balik tirai tebal. Sosok itu hanya tampak sesaat, namun Adit bisa merasakannya—roh itu tidak bermaksud baik.


“Aku tidak takut,” Adit mengatakannya lebih kepada dirinya sendiri. Ia sudah terbiasa dengan dunia ini, meskipun seringkali dunia ini menguji ketahanannya.


Tiba-tiba, lampu gantung di langit-langit berkelap-kelip, memancarkan cahaya merah pudar yang membuat bayangan-bayangan di dinding bergerak aneh. Adit menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Bukan hanya roh biasa yang ia hadapi, tetapi sesuatu yang lebih gelap, lebih kuno.


"Apa yang terjadi di sini?" Adit bertanya, nadanya lebih tegas sekarang, seakan menantang entitas yang menguasai rumah tua ini.


Sesaat kemudian, sebuah suara rendah dan serak menjawab dari balik tirai. "Kami... tak ingin... pergi..."


Adit merasakan dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. Suara itu, meskipun serak, mengandung rasa sakit yang dalam. Seperti ada penderitaan yang tak terucapkan, yang mengikat roh-roh ini pada rumah ini. Ada sesuatu yang mengganggu, sesuatu yang lebih dari sekadar kutukan biasa.


"Apa yang membuat kalian terjebak di sini?" Adit bertanya lagi, suaranya lebih lembut, lebih penuh empati. Dia tahu bahwa sebagian besar roh yang tersesat hanya membutuhkan pemahaman atau pencerahan untuk bisa pergi dengan damai. Tapi kali ini, instingnya berkata bahwa ini tidak akan semudah itu.


Dari balik tirai, sebuah tangan pucat muncul, memegang ujung kain dengan cakar yang panjang. Sebuah wajah muncul perlahan, mengarah ke Adit. Itu adalah wajah seorang wanita, atau setidaknya pernah menjadi wanita. Kulitnya terkelupas, matanya kosong, dan mulutnya terbuka lebar seperti ingin berteriak, meskipun tidak ada suara yang keluar.


Adit mundur beberapa langkah, tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah mengerikan itu. "Siapa kamu?" tanya Adit, meskipun dia sudah tahu jawabannya. Ini adalah roh yang penuh kemarahan dan penderitaan, mungkin korban dari suatu tragedi masa lalu yang masih belum terungkap.


Wanita itu bergerak lebih dekat, dan Adit bisa merasakan hawa dingin yang semakin mencekam. "Aku... hilang... terlupakan..." suara itu kini terdengar semakin jelas, penuh dengan kesedihan yang mendalam.


Adit menatap wajah wanita itu dengan hati yang penuh belas kasihan. Ia tahu, untuk menyelamatkan roh ini, ia harus menggali lebih dalam lagi tentang apa yang terjadi pada wanita tersebut. Tapi ia juga tahu, bahwa menggali terlalu dalam bisa berarti membuka kembali luka yang belum sembuh, tidak hanya untuk roh itu, tetapi juga untuk dirinya sendiri.


Dia berjalan perlahan ke arah meja di pojok ruangan, mengambil buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Di dalamnya tercatat berbagai kejadian yang telah ia tangani. "Aku akan membantumu," ujar Adit dengan suara rendah, penuh tekad.


Namun, saat ia membuka buku itu, tiba-tiba terasa seperti ada sesuatu yang mencekik lehernya, menariknya mundur. Adit berjuang melawan genggaman tak kasat mata yang menahannya. Wajah wanita itu muncul semakin dekat, matanya kini tampak lebih gelap, penuh dengan amarah yang membara.


"Jangan!" teriak Adit, berusaha untuk tidak terjatuh. "Aku akan membantumu, tapi kau harus memberi tahu aku dulu, apa yang terjadi."


Wanita itu mengangkat tangan yang mengerikan, mengguncang tubuh Adit dengan kekuatan yang tak terduga. "Kau... tak bisa menyelamatkan kami..." Suara itu kini menjadi teriakan, menggema di seluruh ruangan.


Adit terjatuh ke lantai, sesak napas. Tetapi saat itu juga, sesuatu dalam dirinya berubah. Dia tahu, untuk mengusir roh ini, dia harus membuatnya melihat kenyataan. Adit dengan cepat mengambil garam dari kantong kecilnya, menyebarkannya di sekitar tubuhnya. Dengan suara gemetar namun penuh keyakinan, dia mulai mengucapkan mantra yang telah dia pelajari selama bertahun-tahun.


"Aku akan membantu kalian... tapi kalian harus pergi." Adit berkata dengan suara penuh kekuatan. "Bebaskan dirimu."


Roh itu menjerit lagi, suara itu semakin memudar. Cahaya merah dari lampu gantung kini mulai memudar, dan sosok wanita itu menghilang, tersapu oleh kekuatan mantra yang kuat.


Adit bernafas lega, meski tubuhnya masih gemetar. Dia tahu ini bukan akhir, hanya bagian dari perjalanan panjangnya sebagai paranormal. Dunia gaib selalu memiliki cara untuk kembali, namun dia juga tahu bahwa selamanya ada tugas yang harus dijalankan, meskipun dengan harga yang tak selalu murah.


Dan seperti biasa, Adit melangkah keluar dari rumah tua itu, menghadap ke dunia luar yang penuh dengan misteri dan rahasia—dunia yang selalu menunggu untuk dipecahkan.


TAMAT

Comments

Popular posts from this blog

SOAL LATIHAN MATERI TENTANG HUKY FIKSI DAN NONFIKSI KELAS IX

CHEAT DOWNHILL